Loading...

Sejarah

Sejarah

Desa Gerak Makmur, Windu Makmur, dan Lapandewa Makmur pada mulanya merupakan satu kesatuan wilayah administratif yang terletak di Kecamatan Sampolawa. Dahulu, pusat pemerintahan dan aktivitas utama masyarakat berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Gerak Makmur. Namun, seiring perkembangan waktu dan kebutuhan akan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, wilayah ini kemudian mengalami proses pemekaran. Hasil dari pemekaran tersebut melahirkan dua desa baru, yakni Windu Makmur dan Lapandewa Makmur. Khusus untuk Lapandewa Makmur, kini desa ini secara administratif telah menjadi bagian dari Kecamatan Lapandewa, berbeda dengan desa induknya—Gerak Makmur—yang tetap berada dalam wilayah Kecamatan Sampolawa dan menjadi titik awal perkembangan seluruh kawasan tersebut.

Menariknya, meskipun secara administratif telah terbagi, masyarakat tetap memiliki ikatan historis yang kuat terhadap satu nama yang telah lama melekat dalam kehidupan mereka, yakni Lande. Nama ini tidak tercantum secara resmi dalam peta atau dokumen pemerintahan, namun justru memiliki eksistensi yang sangat nyata dalam percakapan sehari-hari. Istilah Lande telah menjadi identitas lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Warga setempat kerap memperkenalkan asal mereka sebagai orang Lande, bukan berdasarkan nama desa administratif.

Ada berbagai versi cerita rakyat yang berkembang mengenai asal-usul nama Lande. Salah satu cerita menyebutkan bahwa dahulu kala ada wisatawan asing yang berkunjung dan menyamakan lanskap wilayah ini dengan kota London, sehingga lambat laun istilah “Lande” pun muncul sebagai penyebutan lokal. Versi lainnya menyebutkan bahwa pada masa Perang Dunia II, pesawat tempur Jepang sempat mencoba melakukan pendaratan (landing) di kawasan berbatu yang kini disebut Lande, dan dari situlah nama tersebut diambil. Walau asal-usul pastinya sulit dipastikan, yang jelas nama Lande telah menjadi simbol kultural yang kaya akan nilai historis dan emosional bagi masyarakatnya. Nama ini hidup melalui tutur lisan, menjadi semacam penanda identitas yang tidak lekang oleh waktu.